Source: Nord News

Pada tanggal 27 September 2020, terjadi konflik dari dua negara yang berada di wilayah Kaukasus. Dua negara tersebut adalah Armenia dan Azerbaijan. Konflik antara kedua negara bekas Uni Soviet tersebut berfokus di wilayah administrasi Nagorno-Karabakh (populasi ± 150.000 jiwa) dan sekitarnya. Sebenarnya konflik diantara Armenia dan Azerbaijan sudah lama terjadi, dan sampai sekarang diantara kedua negara tersebut masih memiliki konflik.

  • Sejarah

Benih-benih konflik tersebut sudah terdeteksi sejak 1921, dimana Armenia dan Azerbaijan masih menjadi wilayah Uni Soviet yang baru terbentuk. Pada saat itu, wilayah Nagorno-Karabakh bermayoritas beretnis Armenia beragama Kristen, tetapi berada di wilayah Azerbaijan yang bermayoritas Islam. Namun, pemerintah pusat di Soviet justru memberikan wilayah tersebut kepada wilayah adminstrasi Azebaijan. Hal tersebut menjadi perdebatan dan pertikaian, walaupun masih bisa diatur oleh pemerintah Uni Soviet sampai pada tahun 1980. Pada tahun 1988, badan legislatif di Nagorno-Karabakh mulai menyuarakan pendapat dan meloloskan resolusi untuk menjadi salah satu wilayah bagian Armenia.

Pada 1991, saat Uni Soviet bubar, Armenia dan Azerbaijan langsung menyatakan kemerdekaannya. Karena pemerintah pusat (Uni Soviet) sudah tidak memegang kendali, kedua negara tersebut rebutan untuk wilayah Nagorno-Karabakh yang berakibat perang terbuka dan memakan korban ribuan lebih dan Armenia merebut sekitar 20% wilayah Azerbaijan. Akhirnya, Federasi Rusia serta OSCE Minsk Group (organisasi kerjasama untuk mengurusi proses perdamaian atas konflik Nagorno-Karabakh, dipimpin oleh Perancis, Rusia, dan Amerika Serikat) menjadi penengah untuk gencatan senjata diantara Armenia dan Azerbaijan pada 1994. Gencatan senjata tersebut mengakhiri pertempuran terjadi, walaupun kedua negara memang masih mengincar wilayah tersebut.

Namun, gencatan senjata tersebut tidak menjamin perdamaian yang abadi, dengan peristiwa pada April 2016, yang dikenal sebagai “Four-Day War”. Peristiwa tersebut menjadi eskalasi konflik terbesar diantara Armenia dan Azerbaijan sejak perselisihan tahun 1988-1994. 350 korban jiwa termasuk warga sipil. Rusia dan OSCE Minsk Group berusaha menengahi diplomasi bagi kedua negara, walaupun tidak menghasilkan jalan tengah yang jelas. Pada tahun Juli 2020, terjadi lagi eskalasi konflik selama empat hari yang mengakibatkan puluhan korban jiwa.

  • Konflik 27 September 2020

Pada 27 September 2020, Armenia dan Azerbaijan terlibat dalam eskalasi konflik terbesar sejak peristiwa 1988-1994 dan “Four-Day War”. Eskalasi terjadi dikarenakan Armenia menuduh Azerbaijan mengebom wilayah Nagorno-Karabakh, dan dibalas dengan menghancurkan dua helikopter dan tiga pesawat tanpa awak atau drone milik Azerbaijan. Tidak menunggu lama, Azerbaijan melawan balik dengan tank, pesawat tempur, artileri, serta drone. Hal tersebut mengakibatkan lebih dari 350 korban jiwa. Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, menjelaskan bahwa Armenia siap melakukan “konsesi bersama” dengan Azerbaijan. Namun, Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, pada 27 September 2020 memberikan pernyataan bahwa:

“Nagorno-Karabakh adalah tanah kita,”

“Inilah Akhirnya, kami akan menunjukkan kepada mereka siapa kita. Kami akan mengejar mereka seperti anjing.”

Armenia dan Azerbaijan bukan hanya satu-satunya pemeran dalam konflik ini. Turki memberikan dukungan dan pembenaran terhadap aksi yang dilakukan oleh Azerbaijan. Hal tersebut sangat disayangkan, dimana jalan menuju perdamaian dari konflik tersebut semakin sulit. Kerjasama diantara Azerbaijan dengan Turki sudah terlihat pada saat latihan milter gabungan di bulan Agusutus. Pada 02 Oktober 2020, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, memberikan pernyataan bahwa:

“Sebagai warga Turki, dengan seluruh cara kami dan segenap hati kami, kami berdiri dengan sesame serta saudara kami, Azerbaijan dan kami akan terus mendukungnya,”

“Dengan kehendak tuhan (Insya Allah), sampai Nagorno-Karabakh dibebaskan dari invasi, perjuangan ini akan terus berlanjut.”

Kerjasama Azerbaijan dan Turki didasari atas persamaan budaya, Azerbaijan menjadi pengekspor gas utama untuk Turki, serta Turki ingin memerankan peran lebih besar di wilayah Kaukasus tersebut. Tidak mengherankan Turki memberikan dukungan ke Azerbaijan, yang paling terlihat adalah dukungan penggunaan drone dari Turki (Bayraktar TB2), informasi yang beredar soal penyebaran pesawat tempur Turki (Lockheed Martin F-16 Fighting Falcon) di Bandara Internasional Ganja, Azerbaijan, serta penyebaran tentara bayaran yang berasal dari Turki.

  • Gencatan Senjata

Pada 10 Oktober 2020, Rusia dibantu OSCE Minsk Group menyerukan untuk pembicaraan gencatan senjata diantara kedua negara tersebut. Pembicaraan gencatan senjata dilakukan di Moskow atau Moskwa, Rusia. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, memberikan pernyataan bahwa:

“Republik Azerbaijan, Republik Armenia, dengan mediasi bersama ketua OSCE Minsk Group, berdasarkan prinsip-prinsip dasar penyelesaian, memulai negosiasi substantif dengan tujuan mencapai penyelesaian damai sesegera mungkin.”

“Gencatan senjata telah diumumkan, mulai pukul 12:00 pada 10 Oktober 2020, untuk tujuan kemanusiaan untuk pertukaran tawanan perang dan tahanan lainnya, dan jenazah, untuk dimediasi sesuai dengan kriteria International Committee Of The Red Cross (ICRC)”

Gencatan senjata berhasil dicapai oleh Armenia dan Azerbaijan, walau kedua negara memiliki perbedaan pendapat atas tercapainya gencatan senjata. Menteri Luar Negeri Armenia, Zohrab Mnatsakanyan, menjelaskan bahwa pembicaraan tersebut “agak sulit” dan menginginkan Nagorno-Karabakh sebagai negara independen yang diakui internasional. Sedangkan, Menteri Luar Negeri Azerbaijan, Jeyhun Bayramov, menjelaskan bahwa sedikit tekanan selama pembicaraan dengan Armenia dan berharap situasi di Nagorno-Karabakh bisa lebih baik.

Namun, pada 11 Oktober 2020, terjadi pelanggaran gencatan senjata yang terjadi di Ganja, Azerbaijan, dengan Armenia dan Azerbaijan saling menuduh bahwa mereka yang memulai melanggar. 7 korban jiwa serta 33 terluka termasuk anak-anak. Ini menjadi pengingat bahwa Armenia dan Azerbaijan akan terus memperjuangkan Nagorno-Karabakh demi kepentingan mereka, walaupun harus dengan jalur militer dan korban jiwa. Mungkin waktu yang akan menentukan sampai kapan konflik di Nagorno-Karabakh berakhir.

Referensi

https://www.vox.com/21502327/armenia-azerbaijan-nagorno-karabakh-war-explained

https://www.cfr.org/global-conflict-tracker/conflict/nagorno-karabakh-conflict

https://sputniknews.com/russia/202010091080726573-baku-yerevan-agree-to-ceasefire-in-nagorno-karabakh-after-negotiations-in-moscow/

https://www.france24.com/en/20201011-armenia-azerbaijan-continue-to-levy-charges-of-civilian-strikes-after-nagorno-karabakh-ceasefire

https://www.bbc.com/news/world-europe-54488386

https://www.jejaktapak.com/2020/10/09/hampir-pasti-f-16-turki-ada-di-azerbaijan/

Referensi untuk video (bila perlu)

https://www.youtube.com/watch?v=M92gBIcxbj4

https://www.youtube.com/watch?v=FL0XD1IJiho


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

*
= 3 + 0