Source: The Independent

Belarusia merupakan negara pecahan Uni Soviet yang baru saja mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 1991. Terletak di wilayah Eropa Timur, Belarusia berbatasan dengan negara-negara Uni Eropa seperti Ukraina, Polandia, Lithuania dan Latvia. Uni Eropa pun mengakui Belarusia sebagai negara merdeka pada tahun 1991. Namun hal ini tidak menjamin hubungan baik antara Uni Eropa dan Belarusia. 

 

Pada 9 Agustus lalu, pemerintahan Belarusia mengumumkan kemenangan Alexander Lukashenko sebagai presiden Belarusia. Hal ini menimbulkan gejolak pada masyarakat Belarusia dikarenakan kemenangan ini merupakan kemenangan Lukashenko yang ke-enam dan menjadikan Lukashenko sebagai pemimpin ‘abadi’ Belarusia sejak awal negara itu berdiri. Publik menilai pemilu sebelumnya telah dimanipulasi dan memenangkan rezim Lukashenko yang meraih 80 persen suara mengalahkan lawannya, Svetlana Tikhanovskaya, yang hanya meraih 9 persen suara (CNN). Sedangkan di lain pihak, Lukashenko menangkis kabar tentang kecurangan dalam pemilu Belarus sebelumnya dan menolak diadakannya pemilihan ulang. Menanggapi kemenangan Lukashenko, masyarakat Belarusia menggelar unjuk rasa besar-besaran sejak 10 Agustus 2020. Akibatnya terjadi bentrokan antara pihak berwajib dan masyarakat sipil dan mengakibatkan timbulnya korban jiwa. Aksi protes masyarakat Belarusia ini mendapat perhatian dari masyarakat internasional, terutama bagi masyarakat Uni Eropa. 

 

Negara-negara di semenanjung Baltik, seperti Lithuania, Latvia dan Estonia, mengeluarkan kebijakan larangan berkunjung kepada Presiden Lukashenko dan 29 pejabat sipil terkait sebagai sikap mengkritisi Pemerintahan Lukashenko pada 31 Agustus 2020.  Pengeluaran kebijakan ini juga sebagai sinyal kepada Uni Eropa agar juga mengambil sikap pada kasus pemilu Belarusia. 

 

Hampir satu bulan aksi unjuk rasa di Belarus berlangsung. Pada 7 September 2020 lalu, Uni Eropa mengumumkan akan memberi sanksi ekonomi kepada 31 pejabat di Belarus yang disinyalir bertanggung jawab atas hasil pemilihan umum, kekerasan dan kericuhan yang sedang terjadi. Namun berbeda dengan negara Baltik sebelumnya, Uni Eropa masih belum memasukkan nama Lukashenko dalam daftar penerima sanksi. Namun tidak menutup kemungkinan, Lukashenko juga akan menerima sanksi, mengingat Uni Eropa masih membuka jalur dialog dengan Lukashenko dan menempatkan Lukashenko di urutan terakhir dalam penyidikan. Pengumuman nama-nama pejabat terkait dan hasil final pemberian sanksi akan dikeluarkan pada 21 September mendatang. 

 

Hal ini bukan pertama kalinya Belarusia mendapat sanksi dari Uni Eropa. Hubungan antara Belarus dan Uni Eropa memang tidak akur sejak Lukashenko menjabat sebagai Presiden Belarusia pada 1994. Hal ini dikarenakan Uni Eropa kerap mengkritisi kebijakan pemerintahan Belarusia yang otoriter dan anti-demokrasi. Pada 2004, Uni Eropa pertama kali memberikan sanksi kepada Belarusia berupa visa ban merespon kemenangan Lukashenko pada pemilu 2004 yang menimbulkan aksi protes masyarakat Belarusia yang mengakibatkan bentrokan antara aparat berwajib dan warga sipil. Sanksi visa ban berlanjut pada pemilu 2006 yang kembali memenangkan Lukashenko.  Pemberian sanksi dari Uni Eropa selalu sama di setiap pemilihan, hanya beorientasi pada visa banned dan embargo ekonomi. Meski pada 2015 lalu, Uni Eropa sudah melonggarkan sanksi ekonomi pada Belarusia dengan harapan membuka jalur diplomasi dengan Belarusia, namun hal ini tetap tidak mencegah unjuk rasa masyarakat Belarusia setiap kemenangan rezim Lukashenko. Masih diperlukan cara yang lebih efektif dari pada sanksi ekonomi maupun larangan berkunjung yang berwujud travel banned. 

 

 

 Referensi :

https://jamestown.org/program/belarus-and-the-eu-where-could-another-rapprochement-lead/ 

https://www.reuters.com/article/us-belarus-election-eu-exclusive/exclusive-eu-to-blacklist-31-belarus-senior-officials-over-election-diplomats-say-idUSKBN25Y0WW 

https://www.reuters.com/article/us-belarus-election-sanctions/baltic-states-impose-sanctions-on-lukashenko-and-other-belarus-officials-idUSKBN25R0Z7 

https://www.cnnindonesia.com/internasional/20200817113309-134-536479/aksi-protes-hasil-pilpres-terbesar-dalam-sejarah-belarus 


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

*
= 5 + 5