Source: WomensWeb

Ditulis oleh Sherley Adalia

 Akhir-akhir ini sosial media dipenuhi dengan unggahan swafoto hitam putih oleh para perempuan di berbagai belahan dunia. Rupanya unggahan tersebut merupakan hasil dari “Black and White Challenge”, dimana para perempuan “ditantang” untuk mengunggah swafoto hitam putih dan menambahkan tagar #ChallengeAccepted serta #WomenSupportingWomen di kolom deskripsi, dengan tujuan untuk saling mendukung perempuan. Sejauh ini, terdapat lebih dari 6 juta unggahan “Black and White Selfie Challenge” di Instagram. Dari remaja 13 tahun hingga selebriti terkenal, seperti Gal Gadot, Kristen Bell, Khloe Kardashian, dan lainnya telah mengikuti tantangan ini. Lalu apa maksud dan latar belakang dari gerakan ini?

Perempuan – kaum minoritas yang sampai sekarang hak asasi manusianya belum sepenuhnya terlindungi, masih berjuang untuk menegakkan kesetaraan gender. Bukan hanya di Indonesia, dimana RUU PKS dengan Undang Undang untuk melindungi korban pelecehan seksual tak kunjung disahkan, tetapi hak perempuan di negara-negara lain pun masih mengalami tantangan patriarki. Inilah alasan utama mengapa gerakan “Black and White Selfie” muncul. Gerakan ini bukan hanya untuk memperlihatkan dukungan satu perempuan ke perempuan lainnya, tapi gerakan ini muncul karena masih banyaknya ketidakadilan yang dialami oleh perempuan, hanya karena gender mereka. Gerakan ini sebenarnya dimulai pertama kali di Turki, oleh para perempuan Turki dengan tujuan untuk memprotes tingginya kasus femisida yang ada di sana. Femisida (femicide) adalah aksi pembunuhan perempuan oleh laki-laki yang termotivasi oleh kebencian (umumnya hanya karena gender)[1] atau dapat disebut sebagai sikap misogini yang terjadi di suatu daerah.

Dari data 2009, tercatat bahwa ada 42% perempuan Turki umur 15-60 yang pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual yang dilakukan oleh suami atau pasangan mereka.[2] Perlu diingat bahwa 42% ini hanya data yang terlapor, belum termasuk kasus-kasus yang tidak dilaporkan karena berbagai alasan tertentu. Ketika zaman sudah semakin modern, kasus-kasus seperti ini diharapkan dapat berkurang atau bahkan tuntas. Namun sayangnya setiap tahun kasus ini semakin parah. Di tahun 2019, ada 474 perempuan Turki yang dibunuh (kebanyakan oleh pasangan dan saudara mereka).[3]

Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan (terutama dalam rumah tangga) semakin meningkat. Terdapat satu kasus baru-baru ini yang memicu kemarahan warga Turki, yaitu kasus Pinar Gultekin, seorang mahasiswi umur 27 tahun yang dibunuh di Provinsi Aegean di Mugla. Awalnya, Gultekin dilaporkan menghilang pada tanggal 16 Juli 2020 dan pada akhirnya ditemukan telah meninggal di hutan pada tanggal 21 Juli 2020.[4] Setelah melewati proses investigasi, ditemukan bahwa pelaku pembunuhan Pinar Gultekin adalah mantan pasangannya, Cemal Metin Avci, seorang manager bar di Akyaka. Avci mengaku melakukan pembunuhan terhadap mantan pasangannya saat sedang diinterogasi.[5] Menurut hasil autopsi, Gultekin meninggal karena dicekik dan badannya dimasukkan ke dalam sebuah barel, yang dibakar dan ditaruh beton di atasnya. [6]

Menurut media lokal, saat sedang dimintakan testimoni, Cemal Metin Avci berkata bahwa ia membunuh Gultekin pada saat sedang marah, karena pada awalnya ia memiliki keinginan untuk mengajak Pinar Gultekin untuk berhubungan kembali, tetapi Gultekin menolak ajakan tersebut.[7] Setelah menolak ajakan tersebut, mereka berdua bertengkar, dimana pada akhirnya Avci memukul Gultekin sampai ia pingsan.[8] Lalu saat itulah dimulai proses pembunuhan Avci terhadap Gultekin. Berbeda dengan testimoni Avci, menurut keluarga Gultekin, Avci tidak memiliki hubungan dengan Gultekin. Avci dianggap sebagai seorang penguntit yang terobsesi dengan Gultekin. Ayah Gultekin percaya bahwa Avci membunuh Gultekin karena Gultekin memblokir sosial medianya, sehingga ia marah karena tidak terima akan hal tersebut.[9] Walaupun begitu, pengacara keluarga Gultekin, Rezan Epözdemir, percaya bahwa pembunuhan ini termasuk ke dalam jenis pembunuhan berencana.[10]

Turki merupakan negara pertama yang meratifikasi Istanbul Convention, yaitu Kesepakatan Dewan Eropa tahun 2011 mengenai pencegahan dan perlawanan kekerasan terhadap wanita dan kekerasan domestik. Namun mirisnya, semenjak itu jumlah kasus pembunuhan wanita malah meningkat dua kali lipat.[11] Kasus pembunuhan brutal Pinar Gultekin tersebut menjadi puncak amarah warga, terutama perempuan Turki. Aktivis – aktivis di Turki mulai berkumpul untuk menuntut ditegakkannya hak asasi perempuan, seperti melakukan demonstrasi untuk menekan pemerintah agar membuat kebijakan dan solusi atas masalah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang semakin menyebar di Turki. Namun, para demonstran tidak mendapat respon yang baik, seperti ditembak peluru karet dan gas air mata oleh pihak aparat.[12] Selain berjuang melalui demonstrasi, warga Turki mulai menyebarkan keresahan mereka melalui media sosial. Keresahan ini mulai menyebar dari satu negara ke negara lain. Hingga pada akhirnya muncul tren “Black and White Instagram Challenge” dimana para perempuan mengunggah swafoto hitam putih dan menulis tagar #ChallengeAccepted #WomenSupportingWomen di kolom deskripsi dengan tujuan untuk saling mendukung perempuan dan tren ini terbukti dapat mempererat solidaritas antar perempuan di seluruh dunia.

Selain kasus femisida di Turki yang berpuncak di kasus pembunuhan Pinar Gultekin, terdapat satu tragedi yang juga menambah simpati dan empati para perempuan seluruh dunia untuk mengikuti challenge ini. Pada tanggal 21 Juli 2020, anggota DPR Partai Demokrat Perwakilan Kota New York, Amerika Serikat, Alexandria Ocasio-Cortez, atau biasa dikenal dengan singkatan AOC melaporkan kasus pelecehan verbal yang dilontarkan oleh anggota DPR Partai Republik Perwakilan Florida, Amerika Serikat, Ted Yoho. Kejadian ini terjadi di Gedung DPR, dimana Ted Yoho menghampiri Alexandria Ocasio-Cortez dan mengatakan bahwa Alexandria Ocasio-Cortez ‘menjijikan’ karena menyarankan bahwa kemisikinan telah meningkatkan angka kriminal di New York.[13] Tidak berhenti di situ, Ted Yoho pergi sembari mengutarakan frasa vulgar dan merendahkan ke Alexandria Ocasio-Cortez. Lebih tepatnya, Ted Yoho merendahkan Alexandria Ocasio-Cortez dengan menyebutnya “a f****ing b****” yang bila diterjemahkan berarti wanita j*lang.[14]

Keesokan harinya, Ted Yoho berpidato di Gedung DPR untuk meminta maaf atas perilaku kasarnya terhadap Alexandria Ocasio-Cortez. Namun, Ted Yoho membela diri dengan mengatakan bahwa ia tidak pernah menyebut “kolega New York”nya dengan frasa tersebut. Mendengar pidato tersebut, Alexandria Ocasio-Cortez menulis di akun Twitternya, “He didn’t even say my name,” yang berarti “Dia bahkan tidak mengucapkan nama saya.”[15] Merasa terganggu dengan pidatonya, Alexandria Ocasio-Cortez memutuskan untuk merespon pidato Ted Yoho dengan juga berpidato di Gedung DPR. Di dalam pidatonya, Alexandria Ocasio-Cortez berkata bahwa pelecehan yang ia alami bukanlah hal yang baru. Pelecehan verbal terhadap perempuan telah dialami sedari dulu, sehingga masalah ini menjadi masalah budaya. Budaya dimana kekerasan dan bahasa kasar yang dilontarkan kepada perempuan diterima tanpa adanya hukuman yang jelas untuk mencegah dan melawan itu. Lebih mengecewakannya lagi, struktur masyarakat kita mendukung itu semua.[16] Bukan hanya untuk sekedar merespon permintaan maaf Ted Yoho, pidato Alexandria Ocasio-Cortez dilontarkan untuk menegaskan poin bahwa pelecehan terhadap perempuan, baik verbal maupun fisik, merupakan isu yang serius dan perlu ditangani dengan serius pula. Pidato ini memiliki makna yang kuat untuk membela seluruh perempuan di dunia bahwa tindakan pelecehan, seperti yang dilakukan Ted Yoho bukanlah tindakan yang bisa diterima.

Selain terjadi dalam kurun waktu yang sama, kedua tragedi ini pun memiliki makna yang serupa. Poin penting yang diambil para perempuan sampai membuat tren “Black and White Instagram Challenge” ini adalah kediaman bukanlah respon yang dapat diterima dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan. Tren ini mengingatkan para perempuan untuk saling mendukung satu sama lain dengan bersuara melawan ketidakadilan, bersuara mengenang, mengingat dan menghargai para perempuan yang telah menjadi korban kekerasan. Maka dari itu dipakainya filter foto hitam putih. Walaupun berjauhan dan berbeda latar belakang, tren ini menjadi bukti bahwa para perempuan bersatu menuntut adanya perubahan, demi melindungi harga diri, hak dan keselamatan kaum perempuan – untuk tidak lagi menjadi kaum minoritas.

Sources:

[1] Diana Russel & Jill Radford. 1992. Femicide: Speaking the Unspeakable, in Femicide: The Politics of Women Killing 34.

[2] Bethan McKernan. 2020. The Guardian: “Murder in Turkey sparks outrage over rising violence against women.”

https://www.theguardian.com/world/2020/jul/23/turkey-outrage-rising-violence-against-women

[3] Bethan McKernan. 2020. The Guardian: “Murder in Turkey sparks outrage over rising violence against women.”

https://www.theguardian.com/world/2020/jul/23/turkey-outrage-rising-violence-against-women

[4] BIA News Desk. 2020. “‘Pınar Gültekin’s killing was a premeditated murder,’ says lawyer Epözdemir.” http://bianet.org/english/women/228136-pinar-gultekin-s-killing-was-a-premeditated-murder-says-lawyer-epozdemir

[5] Hurriyet Daily News. 2020. “Brutal murder of young woman shocks country.” https://www.hurriyetdailynews.com/brutal-murder-of-young-woman-shocks-country-156758

[6] Umut Uras. 2020. Al Jazeera: “Protests in Turkey over brutal murder of young woman.”

https://www.aljazeera.com/news/2020/07/protests-turkey-brutal-murder-young-woman-200722102923071.html

[7] Daily Sabah. 2020. “Another woman’s vicious murder stirs outrage in Turkey.”

https://www.dailysabah.com/turkey/another-womans-vicious-murder-stirs-outrage-in-turkey/news

[8] Louise Callaghan. 2020. The Sunday Times: “They are hunted like birds here’: killings of women soar in Turkey”

[9] Louise Callaghan. 2020. The Sunday Times: “They are hunted like birds here’: killings of women soar in Turkey”

[11] Katrina Schollenberger. 2020. The Sun: “Turkey femicide: What is happening to women in Turkey and what is the black and white photo challenge?” https://www.thesun.co.uk/news/12258366/domestic-violence-women-in-turkey-instagram-challenge/

[13] Luke Broadwater. 2020. New York Times: “Ocasio-Cortez Upbraids Republican After He Denies Vulgarly Insulting Her.” https://www.nytimes.com/2020/07/22/us/politics/aoc-yoho.html

[14] Barbara Sprunt. 2020. National Public Radio: “’I Could Not Allow That To Stand’: Ocasio-Cortez Rebukes Republican For Vulgar Insult.” https://www.npr.org/2020/07/23/894596598/i-could-not-allow-that-to-stand-ocasio-cortez-rebukes-republican-for-vulgar-insu

[15] Luke Broadwater. 2020. New York Times: “Ocasio-Cortez Upbraids Republican After He Denies Vulgarly Insulting Her.” https://www.nytimes.com/2020/07/22/us/politics/aoc-yoho.html

[16] Chelsey Sanchez. 2020. Harper’s Bazaar: “AOC Likens Representative Ted Yoho’s Insults to the Toxic Culture That Enables Men to Abuse Women.” https://www.harpersbazaar.com/culture/politics/a33404950/aoc-ted-yoho-apology/


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

*
= 5 + 8