Source: Daily Sabah

Oleh: Risga Daffa Pradana

Pertengahan tahun 2020, banyak peristiwa besar yang terjadi yang mengejutkan dunia. Mulai dari makin masifnya angka positif Corona sampai gelombang protes kasus pembunuhan George Floyd yang terjadi di berbagai belahan dunia. Menariknya, di tengah kegemparan berbagai isu, pada tanggal 05 Juni 2020, Pemerintah Yunani melalui Menteri pertahanannya (Nikos Panagiotopoulos) memperingatkan Athena untuk mempersiapkan diri untuk mengantisipasi skenario terburuk untuk berperang dengan negara sebelah, Turki. Walaupun kedua negara ini adalah sama-sama anggota NATO (North Atlantic Treaty Organization), namun hubungan antar kedua negara tersebut tidak selalu berjalan dengan baik karena beberapa hal. Permasalahan atas hak-hak di Siprus, konfrontasi militer di laut Aegean, serta ancaman dari Turki ke negara-negara Eropa atas imigran-imigran Timur Tengah menjadikan hubungan Turki dengan negara-negara lain, khusunya Yunani selalu panas.

Menariknya, pernyataan melalui Menteri pertahanan Yunani (Nikos Panagiotopoulos) untuk bersiap perang dengan Turki datang setelah presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan pada konferensi pers dengan Perdana Menteri Libya (Government of National Accord), Fayez al-Sarraj mengumumkan mengenai kerjasama diantara kedua negara tersebut, dengan proyek pengeboran dan eksplorasi minyak yang wilayah proyeknya melalui teritori sah Yunani. Hal inilah yang menyebabkan pemerintah Yunani mengecam tindakan tersebut karena dianggapnya sebagai tindakan perampasan wilayah dan provokasi. Menteri Pertahanan Yunani, Nikos Panagiotopoulos, dalam siaran TV Yunani menyatakan bahwa sikap Turki yang “agresif” tesebut sudah tidak dapat ditolerir lagi. Dalam siaran TV Yunani, Panagiotopoulos menyatakan bahwa:

“Tentu saja sikap Turki baru-baru ini agak agresif. Saya percaya bahwa satu-satunya cara Yunani dapat menghadapinya adalah, di satu sisi, menguras semua senjata diplomatiknya, dan di sisi lain, untuk memenuhi peningkatan kekuatan pencegahan Angkatan Bersenjata,”.

Panagiotopoulos juga mengindikasikan bahwa dari sekian kemungkinan yang ada, “keterlibatan militer” juga bisa termasuk dalam kemungkinan tersebut. Panagiotopoulos menyatakan bahwa:
“Kami tidak ingin ini terjadi. Namun, kami menjelaskan ke segala arah bahwa kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk mempertahankan hak-hak kedaulatan kami sejauh mungkin, jika Anda mengetahui maksud saya,”

Pada tanggal yang sama, yaitu tanggal 05 Juni 2020, Penasihat Keamanan Nasional Yunani sekaligus mantan Laksamana Madya Angkatan Laut Yunani, Alexandros Diakopoulos, memberitahu kepada reporter media Yunani tentang rencana untuk menekan Turki agar berhenti melakukan aktivitas ilegal tersebut. Diakopoulos memperingatkan bahwa Yunani bersiap secara militer untuk melakukan hal-hal yang diperlukan untuk mencegah Turki dari aktivitas ilegal tersebut. Namun, Diakopoulos yakin bahwa pemerintah Yunani tidak perlu melakukan cara seperti itu.
Pada 10 Juni 2020, Menteri Pertahanan Turki, Hulusi Akar, menyatakan bahwa Yunani sebenarnya tidak ingin melakukan konflik atau peperangan terbuka dengan Turki. Dalam pernyataanya, Akar menyatakan bahwa:

“Saya ingin menggarisbawahi dalam kepastian matematis bahwa orang Yunani tidak ingin melakukan perang dengan Turki,”

Beliau juga menyatakan bahwa pernyataan dari Menteri Pertahanan Yunani, Nikos Panagiotopoulos, adalah hanya salah satu kesalahan pengucapan atau ketidaksengajaan dalam menyatakan hal tersebut. Akar juga berharap kepada Yunani untuk tidak melihat masalah-masalah dengan Turki dengan semaunya sendiri. Beliau menyatakan bahwa kedua negara telah melakukan 3 Langkah diplomatis satu sama lain dan mengimplikasikan bahwa hubungan kedua negara tersebut baik-baik saja. Akar juga mendesak Yunani untuk membahas masalah-masalah yang ada dengan Turki agar bisa diselesaikan dengan baik, seperti membahas Perjanjian Lausanne, yaitu perjanjian yang membahas keadaan Turki setelah Perang Dunia pertama. Perjanjian tersebut juga membahas tentang demiliterisasi pulau Aegean. Akar menyatakan bahwa:

“Mereka mengutip Perjanjian Lausanne. Ya, kami juga ingin mematuhi Perjanjian Lausanne. Yunani mempersenjatai 16 dari 23 pulau di Aegean yang harus mempertahankan status demiliterisasi mereka, menurut Lausanne. Apakah membicarakannya sebagai ancaman?”

Saat ditanya tentang permasalahan Hagia Sophia diubah menjadi masjid, Akar menyatakan bahwa hal tersebut termasuk masalah internal dan tidak dapat diganggu oleh negara manapun, termasuk Yunani.

Ketegangan hubungan bilateral tersebut bukan kali pertama terjadi. Pada 20 Mei 2020, militer Yunani merilis video tentang jet tempur Yunani mengunci target ke jet tempur Turki diatas wilayah Aegean. Hal ini dilakukan Yunani lantaran jet tempur Turki melanggar wilayah Yunani. Penerbangan di atas Aegean guna “menyambut” helikopter Yunani yang berisi Menteri Pertahanan Yunani, Nikos Panagiotopoulos, serta Jendral Konstantinos Floros. Sebenarnya kejadian pelanggaran wilayah dan respon dengan jet tempur kedua negara tersebut merupakan hal yang biasa terjadi. Hanya saja, perilisan video tersebut merupakan hal yang tidak lazim untuk dilakukan. Menurut media berita Greek City Times, perilisan video tersebut merupakan ancaman kepada Turki bahwa Yunani memiliki pilot-pilot (angkatan bersenjata) terbaik dan siap mengatasi ancaman yang ada, termasuk Turki.

Sources: 

https://sputniknews.com/military/202006051079529596-greek-defence-minister-warns-athens-prepared-for-conflict-with-aggressive-turkey/

https://sputniknews.com/world/202005201079367243-greek-air-force-intercepts-turkish-military-jets-flying-over-Aegean-islets–reports/

https://greekcitytimes.com/2020/05/05/greek-fighter-jets-lock-onto-turkish-f-16-in-the-Aegean-i-got-him-says-the-pilot/

https://www.hurriyetdailynews.com/turkey-rules-out-war-with-greece-over-maritime-problems-155529

https://www.ekathimerini.com/253546/article/ekathimerini/news/akar-says-greece-would-not-want-war-with-turkey


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

*
= 4 + 9