Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerjasama dengan Kementrian Luar Negeri (Kemlu) untuk mengadakan  seminar dan bedah buku. Bertempat di ruang aula gedung 1 FISIP UNS, rangkaian acara  bertemanakan Public Outreach Bedah Buku “Jejak Orang Jawa di New Caledonia dan Diskusi Kebijakan Pemerintah RI dikawasan Pasifik” yang dimulai jam 09.00 waktu setempat ini menghadirkan Bapak Widyarka Ryananta, Mantan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Noumea yang juga sebagai penulis dari buku tersebut (6/9).

Acara dibuka dengan sambutan oleh bapak Drs. Sudarmo yang menjadi perwakilan dekanat FISIP UNS yang kemudian dilanjutkan sambutan dari kemlu yang diwakilkan oleh Nahari Agustin sekaligus juga mantan duta besar RI untuk Turki. Muhnizar siagian selaku moderator mengawali diskusi tersebut dengan cerita seputar negara-negara yang terletak di kawasan Melanesia. Jejak Orang Jawa di Caledonia Baru menarik untuk didiskusikan karena latar belakang sejarah serta perkembangan sosial dan budaya baik di Indonesia maupun Caledonia Baru sendiri. Bahkan, fakta ini belum bayak diketahui oleh kebanyakan mahasiswa terutama mahasiswa HI. Hal ini tentu saja menarik apabila kemudian dihubungkan dengan kerjasama Pemerintah RI di kawasan Asia Pasifik agar lingkup studi mereka tidak hanya terbatas di kawasan Eropa dan Amerika namun juga negara-negara Asia Pasifik yang cenderung berada di “belakang rumah” kita sendiri. Antusiasme peserta terlihat ketika sesi tanya jawab berlangsung, bahkan hingga beberapa penanya tidak mendapatkan kesempatan karna terbatasnya durasi waktu. 

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi kebijakan pemerintah Indonesia di Pasifik. Tak cukup satu, dua pembicara sekaligus menjadi pemateri pada siang hari itu. Pemateri pertama untuk diskusi Pasifik adalah Bapak Ben Perkasa Drajat. Pemateri memaparkan bagaimana gaya berdiplomasi serta upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Indonesia dalam mendekati negara-negara di kawasan Asia Pasifik serta penggunaan teropong intelektual dan operasional dalam kebijakan luar negerinya. Sekitar 30 menit diskusi berlangsung, acara kemudian dilanjut oleh pemateri kedua yaitu Bapak Asa Patia Silalahi. Diskusi yang merujuk pada tantangan dan peluang RI di Pasifik menjadi suatu hal yang menarik dimana Pasifik sering dipandang sebelah mata oleh negara-negara lain. Selain itu, banyak tantangan serta potensi kerja sama yang harus dihadapi Indonesia di kawasan Asia Pasifik yang bahkan sampai sekarang belum ditemukan solusinya.

Diskusi diakhiri dengan tiga pertanyaan oleh peserta dan ditutup dengan penyerahan cenderamata oleh Muhnizar Siagian selaku perwakilan Prodi HI FISIP UNS terhadap Ibu Nahari Agustin yang dilanjutkan dengan sesi foto bersama. (Naufal/16)

 

 

 

 

 

 

 


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

*
= 4 + 7