ISTANA KAYU WANAMARTA

Digubah dari Mahabarata oleh Prof. Andrik Purwasito

Talu

PATHET NEM

Gedong

Diskripsi Cerita.

Babak ini akan menceritakan tentang kegalauan Duryudono karena ambisinya untuk meduduki tahta kerajaan Hastinapura. Rakyat mengelu-elukan saudaranya Yudhistira untuk menjadi Raja. Duryudono tahu bahwa ia akan kalah menghadapi saudara-saudara Pendawa yang gagah perkasa dan dicintai oleh rakyatnya, terutama Bima dan Arjuna. Maka ia meminta Ayahnya Destrarastra, dan terutama Pamannya Patih Sangkuni yang terkenal licik untuk membantu menduduki tahta Kerajaan Hastinapura. Inilah Babak pertama dimulainya tipu muslihat ISTANA KAYU WANAMARTA.

Jejer Hastinapura:

Duryudono meyakinkan ayahanda dan adik-adiknya untuk mengirim Pendawa ke Hutan Perawan Wanamarta. Durna, Bisma dan Widura tidak menyetujui rencana tersebut karena mereka tahu bahwa hal tersebut hanyalah akal busuk untuk membunuh Pendawa. Mereka meninggalkan pertemuan pertanda penolakan atas rencana tersebut.

Duryudono bersama Karna, Dursasana, dan Sengkuni membicarakan rencana gelap dan rahasia tersebut secara matang.

Bedholan

Duryudono merasa rencana rahasianya akan berhasil. Dengan langkah gagah berani memasuki istana dengan para dayang.

Limbukan

Sementara rakyat tidak menaruh curiga atas rencana hitam tersebut. Bahkan Limbuk dan Cangik merasa gembira karena Pendawa bakal mempunyai Kerajaan Baru yang mungkin lebih hebat dari Hastinapura.

Paseban Jawi

Sengkuni secara diam-diam mengatur siasat licik. Tetapi Widura mampu mendengar seluruh percakapan tersebut berkat kesaktian tidak kasat mata. Korawa berangkat ke Wanamarta untuk membangun istana dari Kayu yang pintunya hanya ada satu di depan saja. Sementara, mereka membuat pintu rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun juga kecuali para Korawa.

Perang Gagal

Dalam perjalanan ke Wanamarta, Korawa dicegat oleh raksasa dan Roh Halus penghuni hutan, Korawa berperang dan lari tunggang langgang. Pendawa membantu menghalau musuh bahkan mereka memperoleh kekuatan supranatural.

 

PATHET SANGA

Babak ini menceritakan tentang Istana Kayu Wanamarta, Pendawa kaget dan kagum karena Korawa telah membangun sebuah Istana Kayu yang sangat megah. Sebenarnya bahan bangunan tersebut telah dirancang untuk mudah terbakar, seperti lapisan dinding dari minyak kental, hiasan dengan karung karung kering, dan ranting. Pendawa secara rahasia meminta kepada para Raksana penunggu Hutan untuk membuat terowongan dipimpin oleh Antareja yang memang penguasa Bumi. Selama kurang lebih satu tahun, jalur evakuasi selesai tepat waktu, Korawa akan melaksanakan niat jahatnya.

Goro-Goro

Pada saat Pendawa bersuka-cita atas semua pemberian saudaranya Istana Kayu, Semar dan Punakawan diminta untuk menghiburnya. Semar menyampaikan rencana jahat Korawa melalui tembang-tembang yang menyegarkan. Di tengah-tengah Goro-Goro yang mewah tersebut, Dewi Kunthi memberi hidangan yang melimpah sehingga semua yang hadir, termasuk 5 tokoh agama, yang tertidur pulas.

Istana Kayu di Bakar

Maka dibakarlah Istana Kayu dan semua orang yang tertidur pulas tersebut binasa. Sedangkan Pendawa telah menyelamatkan diri jauh dari hutan Wanamarta. Rakyat marah mendengar kabar Pendawa mati menjadi abu bersama para pendukungnya. Bima menggendong ibu dan saudara-saudaranya melarikan diri mengembara di Hutan Wanamarta.

 

PATHET MANYURA

Dalam babak terakhir, Pendawa sampailah di desa Ekacakra dan tinggal di rumah seorang Brahmana. Pada suatu hari, Bakasura, Raja Raksana pemangsa manusia, meminta giliran Sang Brahmana menyediakan makanan dan korban manusia. Pada saat Sang Brahmana kehilangan harapan, Dewi Kunthi menawarkan jasa sebagai balas budi untuk mengantarkan makanan tersebut. Bimalah yang menjadi pahlawan dengan membunuh Bakasura

Jejer di Ekacakra

Sang Brahmana sedih karena ia menerima giliran menyediakan makanan dan korban manusia kepada Bakasura. Dewi Kunthi meminta Bima untuk melakukan hal tersebut. Bima menyetujuinya, yang dikawal oleh saudara-saudaranya yang lain.

Perang Brubuh

Bima berhadapan dengan Jakasura. Tetapi raksasa tersebut tidak mampu mengunyah kulit Bima yang keras. Giginya malah rompang karena tubuh Bima seperti besi. Sebaliknya Bima mencabik-cabik tubuh Jakasura, menyobek mulutnya dan menyeretnya ke Gapura kota. Disana Bima menunjukan kekuatannya dengan membanting Bakasura hingga tewas.

Tutup Kayon

Selesai

 

Bagi mahasiswa Baru, Pertanyaannya adalah: Pelajaran apa yang dapat kita petik atas cerita Mahabharata dalam kaitannya dengan ilmu politik, etika, moral, sosial dan kemanusiaan?

 

Categories: Uncategorized

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

*
= 3 + 4